Cara Menentukan ISO yang Cocok untuk Produk yang Akan Dipasarkan

Jangan asal memilih ISO! Kenali jenis produk, proses bisnis, dan kebutuhan pasar sebelum menentukan standar ISO yang tepat.
Banyak pelaku usaha ingin memasang label “ISO Certified” pada bisnisnya karena dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan dan kredibilitas perusahaan. Namun, masih banyak yang bingung: ISO apa yang cocok untuk produk saya?
Pada dasarnya, ISO tidak selalu ditentukan hanya berdasarkan nama produknya. Pemilihan standar ISO perlu disesuaikan dengan jenis usaha, proses produksi, risiko, sistem manajemen, serta kebutuhan pelanggan atau pasar yang dituju.
Lalu, bagaimana cara menentukan ISO yang tepat untuk produk yang akan dipasarkan?
Apa Itu ISO?
ISO atau International Organization for Standardization merupakan organisasi internasional yang mengembangkan berbagai standar untuk membantu perusahaan meningkatkan kualitas, keamanan, efisiensi, dan konsistensi dalam menjalankan kegiatan bisnis.
ISO memiliki banyak standar dengan fokus yang berbeda-beda. Karena itu, tidak semua perusahaan membutuhkan ISO yang sama.
Misalnya, perusahaan yang memproduksi makanan tentu memiliki kebutuhan standar yang berbeda dengan perusahaan konstruksi, manufaktur, teknologi informasi, atau perusahaan yang bergerak di bidang lingkungan.
1. Kenali Produk yang Akan Dipasarkan
Langkah pertama dalam menentukan ISO yang cocok untuk produk adalah memahami produk secara detail.
Coba identifikasi:
- Produk apa yang akan dijual?
- Bagaimana proses pembuatannya?
- Apa bahan baku yang digunakan?
- Apakah produk berkaitan dengan makanan atau minuman?
- Apakah terdapat risiko terhadap konsumen?
- Apakah produk membutuhkan standar keamanan tertentu?
- Siapa target konsumennya?
- Apakah produk akan dijual di dalam negeri atau diekspor?
Sebagai contoh, perusahaan yang memproduksi makanan perlu memberikan perhatian besar terhadap keamanan pangan dan kebersihan proses produksi.
Sementara itu, perusahaan manufaktur yang memproduksi komponen industri mungkin lebih membutuhkan sistem yang berfokus pada manajemen mutu dan konsistensi proses produksi.
2. Tentukan Tujuan Sertifikasi ISO
Jangan hanya memilih ISO karena sedang banyak digunakan oleh perusahaan lain.
Tentukan terlebih dahulu mengapa perusahaan membutuhkan sertifikasi ISO.
Beberapa tujuan yang umum antara lain:
- Meningkatkan kualitas produk.
- Meningkatkan kepercayaan pelanggan.
- Memenuhi persyaratan tender.
- Memenuhi permintaan dari pelanggan atau perusahaan besar.
- Mendukung ekspor produk.
- Meningkatkan efisiensi proses bisnis.
- Mengurangi risiko dalam operasional.
- Meningkatkan citra dan kredibilitas perusahaan.
Tujuan tersebut akan membantu menentukan standar ISO yang paling relevan.
3. Sesuaikan dengan Proses Bisnis Perusahaan
Selain produknya, perhatikan juga bagaimana produk tersebut dibuat dan dipasarkan.
Misalnya, perusahaan memiliki proses:
Pembelian bahan baku → produksi → pemeriksaan kualitas → penyimpanan → distribusi → pelayanan pelanggan.
Dalam proses tersebut terdapat berbagai potensi risiko dan kebutuhan pengendalian.
ISO 9001, misalnya, berfokus pada sistem manajemen mutu, sehingga dapat relevan bagi berbagai jenis perusahaan yang ingin membangun sistem pengelolaan kualitas secara konsisten.
Artinya, ISO 9001 tidak hanya ditujukan untuk satu jenis produk tertentu.
4. Pilih ISO Berdasarkan Kebutuhan Produk dan Perusahaan
Berikut beberapa standar ISO yang cukup umum dan contoh penggunaannya:
| Standar ISO | Fokus Utama | Contoh yang Membutuhkan |
|---|---|---|
| ISO 9001 | Sistem Manajemen Mutu | Manufaktur, jasa, perdagangan, konstruksi, dan berbagai sektor lainnya |
| ISO 14001 | Sistem Manajemen Lingkungan | Industri/manufaktur dan perusahaan dengan aktivitas yang berdampak pada lingkungan |
| ISO 22000 | Sistem Manajemen Keamanan Pangan | Industri makanan, minuman, katering, restoran, dan rantai pasok pangan |
| ISO 45001 | Sistem Manajemen K3 | Perusahaan dengan risiko keselamatan dan kesehatan kerja |
| ISO 27001 | Sistem Manajemen Keamanan Informasi | Perusahaan teknologi, IT, pengelola data, dan organisasi yang membutuhkan pengamanan informasi |
| ISO 13485 | Sistem Manajemen Mutu Alat Kesehatan | Produsen dan pihak terkait perangkat medis |
| ISO 50001 | Sistem Manajemen Energi | Perusahaan dengan penggunaan energi yang signifikan |
Catatan: Tabel tersebut merupakan gambaran umum. Standar yang paling tepat tetap perlu dilihat berdasarkan aktivitas, proses, risiko, regulasi, dan kebutuhan perusahaan.
5. Bedakan ISO dengan SNI
Ini juga menjadi hal penting yang sering membuat pelaku usaha keliru.
ISO dan SNI bukan hal yang sama.
ISO merupakan standar internasional yang dapat digunakan sebagai acuan oleh organisasi di berbagai negara.
Sedangkan SNI (Standar Nasional Indonesia) merupakan standar yang berlaku di Indonesia.
Untuk produk tertentu, bisa saja perusahaan membutuhkan SNI, sementara untuk sistem manajemen perusahaan membutuhkan ISO.
Contohnya, sebuah perusahaan manufaktur dapat memiliki produk yang harus memenuhi persyaratan standar produk tertentu, sekaligus menerapkan ISO 9001 untuk sistem manajemen mutunya.
Jadi, jangan langsung menganggap bahwa memiliki ISO berarti produk otomatis sudah memenuhi seluruh persyaratan SNI atau regulasi produk.
6. Perhatikan Target Pasar
Target pasar juga dapat memengaruhi pilihan standar.
Jika produk hanya dipasarkan kepada konsumen lokal, kebutuhan sertifikasi mungkin berbeda dengan perusahaan yang ingin menjadi supplier perusahaan besar atau masuk pasar internasional.
Beberapa pelanggan bahkan dapat menetapkan persyaratan tertentu kepada supplier mereka.
Contohnya:
“Supplier harus memiliki sistem manajemen mutu yang tersertifikasi ISO 9001.”
Dalam kondisi seperti ini, sertifikasi ISO bukan hanya tentang meningkatkan citra perusahaan, tetapi juga dapat menjadi persyaratan bisnis.
7. Perhatikan Persyaratan Tender atau Customer
Bagi perusahaan yang ingin mengikuti tender atau bekerja sama dengan perusahaan besar, jangan lupa memeriksa dokumen persyaratan tender atau permintaan customer.
Jika customer mensyaratkan ISO tertentu, maka standar tersebut perlu menjadi salah satu pertimbangan utama.
Misalnya:
Perusahaan ingin menjadi supplier perusahaan X → perusahaan X mensyaratkan ISO 9001 → perusahaan perlu mempersiapkan sistem manajemen sesuai ISO 9001.
Dengan begitu, perusahaan tidak mengeluarkan biaya untuk sertifikasi yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Contoh Menentukan ISO Berdasarkan Produk
Produk 1: Makanan Olahan
Misalnya perusahaan memproduksi sambal kemasan.
Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya produknya, tetapi juga:
Bahan baku → proses produksi → kebersihan → penyimpanan → pengemasan → distribusi.
Karena berkaitan dengan keamanan pangan, ISO 22000 dapat menjadi salah satu standar yang relevan untuk dipertimbangkan.
Namun, perusahaan juga dapat mempertimbangkan ISO 9001 apabila ingin membangun sistem manajemen mutu secara umum.
Produk 2: Produk Manufaktur
Perusahaan memproduksi komponen atau barang manufaktur.
Hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- Konsistensi kualitas produk.
- Pengendalian bahan baku.
- Proses produksi.
- Pemeriksaan kualitas.
- Penanganan produk tidak sesuai.
- Kepuasan pelanggan.
Untuk kebutuhan sistem manajemen mutu, ISO 9001 dapat menjadi salah satu pilihan yang relevan.
Produk 3: Produk dengan Dampak Lingkungan
Jika proses produksi menghasilkan limbah atau memiliki aspek lingkungan yang signifikan, perusahaan dapat mempertimbangkan ISO 14001 sebagai sistem manajemen lingkungan.
Produk 4: Produk Alat Kesehatan
Untuk perusahaan yang bergerak dalam perangkat medis, ISO 13485 merupakan standar yang secara khusus berkaitan dengan sistem manajemen mutu untuk perangkat medis.
Jadi, Bagaimana Cara Menentukan ISO yang Tepat?
Secara sederhana, gunakan alur berikut:
Kenali produk → pahami proses bisnis → identifikasi risiko → tentukan tujuan → cek kebutuhan customer/tender → cek regulasi → pilih standar ISO yang relevan → lakukan gap analysis → persiapkan sistem → sertifikasi.
Jangan memilih ISO hanya berdasarkan jenis produknya.
Produk yang sama bisa memiliki kebutuhan sertifikasi yang berbeda tergantung proses bisnis, target pasar, risiko, regulasi, dan persyaratan pelanggan.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Memilih ISO
Beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari:
❌ Memilih ISO karena ikut-ikutan
Perusahaan lain menggunakan ISO 9001 bukan berarti perusahaan Anda otomatis membutuhkan standar yang sama.
❌ Menganggap ISO adalah sertifikat produk
Sebagian ISO merupakan standar sistem manajemen, bukan sertifikat yang menyatakan bahwa sebuah produk pasti berkualitas atau aman.
❌ Tidak mengecek persyaratan customer
Bisa saja perusahaan sudah memiliki sertifikasi, tetapi standar yang dimiliki ternyata tidak sesuai dengan persyaratan calon customer.
❌ Tidak melihat regulasi produk
ISO tidak menggantikan seluruh perizinan dan persyaratan wajib produk.
❌ Hanya mengejar sertifikat
Yang paling penting bukan sekadar mendapatkan sertifikat, tetapi membangun sistem yang benar-benar diterapkan dalam operasional perusahaan.
Butuh Bantuan Menentukan ISO yang Cocok?
Masih bingung ISO apa yang cocok untuk produk dan bisnis Anda?
Tidak perlu menentukan sendiri tanpa memahami kebutuhan perusahaan.
izinaja.id dapat membantu Anda mengidentifikasi kebutuhan legalitas dan standar yang sesuai berdasarkan jenis produk, bidang usaha, proses bisnis, serta target pasar Anda.
Mulai dari menentukan standar yang relevan hingga proses persiapan sertifikasi, pastikan bisnis Anda menggunakan standar yang tepat, bukan sekadar ikut tren.
Sudah punya produk dan ingin dipasarkan lebih profesional?
Konsultasikan kebutuhan ISO bisnis Anda bersama izinaja.id.
izinaja.id — Urus Legalitas Usaha Jadi Lebih Mudah.